Mari Belajar IPS

  • Home
  • Kelas
    • VII
    • VIII
    • IX
  • Video Pembelajaran
    • Geografi
    • Ekonomi
    • Sejarah

Jumat, 05 Februari 2021

Pekalongan Kota Kreatif Dunia

 Februari 05, 2021     No comments   

Mendengar nama Pekalongan, orang langsung teringat dengan batik. Memang benar, Kota Pekalongan terkenal dengan batiknya, namun tidak banyak orang tahu bahwa selain batik sebagai hasil kreatifitas masyarakat, ternyata batik merupakan slogan Kota Pekalongan yaitu Bersih, Aman, Tertib, Indah dan Komunikatif. 

Kota Pekalongan salah satu kota pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa di utara,Kabupaten Batang di timur, serta Kabupaten Pekalongan di sebelah selatan dan barat. 

Acara dan perayaan



Pada setiap tahun pada tanggal tertentu, Pemerintah atau warga Kota Pekalongan mengadakan berbagai acara yang menarik wisatawan, acara-acara tersebut diantaranya:

  • Pekan Batik Nusantara (PBN) dan Pekan Batik Internasional (PBI)

Pekan Batik Nusantara diadakan 1 tahun sekali pada bulan Oktober sedangkan Pekan Batik Internasional berlangsung setiap 3 tahun sekali pada bulan yang sama. Kegiatan yang diselenggarakan dalam acara ini adalah gala diner, fashion show, gelar budaya, seminar, karnaval kreasi busana batik, pameran produk batik dalm dan luar negeri, great sale dan wisata kuliner.

  • Perayaan HUT Kota Pekalongan

Diadakan 1 tahun sekali yaitu setiap tanggal 1 April, dalam acara ini dilakukan kirab dan gelar kesenian dan budaya khas Kota Pekalongan, karnaval serta berbagai event lomba. Tetapi pada tahun 2015, perayaan ini dilaksanakan dalam acara Pekan Kreatif Nusantara (PKN) yang konsep nya tidak jauh berbeda dengan Pekan Batik.

  • Hari Teknologi Nasional

Diselenggarakan 1 tahun sekali pada bulan September, agenda dalam acara ini adalah pameran inovasi daerah yang diikuti berbagai daerah di Indonesia serta lomba inovasi.

  • Nyadran

Tradisi Nelayan Pekalongan yang diadakan 1 tahun sekali dengan menggelar acara "ngelarung" sesaji ditengah laut yang diperebutkan oleh kalangan masyarakat nelayan.

  • Pek Tjun

Dilakukan 1 tahun sekali, kegiatan Pek Tjun menampilkan kebudayaan Tionghoa dengan puncak acara di Pantai Pasir Kencana dengan atraksi barongsai yang dilarung di laut serta lomba mendirikan telur ditengah terik matahari.

  • Cap Gomeh

Diselenggarakan 1 tahun sekali oleh umat Konghucu yang dipusatkan di Klenteng Pho An Thian, dengan kegiatan karnaval mengarak "para dewa" keliling kota yang diiringi kesenian Tionghoa.

  • Krapyakan atau Syawalan

Diselenggarakan 1 tahun sekali, sepekan usai Hari Raya Idul Fitri, acara ini berlokasi di Jalan Jlamprang, Krapyak dengan pemotongan lopis raksasa seberat 1 ton lebih dengan tinggi sekitar 2 meter.[7]

  • Festival Pintoe Dalam

Digelar 1 tahun sekali selama 2 hari di sepanjang Jalan Blimbing, Pekalongan Timur, menyajikan kesenian dan makanan khas etnis Tionghoa.

  • Khoul

Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati wafatnya Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas, diselenggarakan 1 tahun sekali menjelang bulan puasa Ramadhan. Acara ini berlangsung di wilayah Makam Sapuro yang dihadiri masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara dan Mancanegara. ( Sumber Wikipedia)



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kamis, 07 Mei 2020

Perubahan Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan

 Mei 07, 2020     Kelas 8     No comments   



Terjadinya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia menyebabkan perubahan masyarakat Indonesia baik aspek geografis ekonomi sosial budaya pendidikan maupun politik. Perubahan apa saja yang terjadi pada masyarakat Indonesia pada masa kolonial?  Berikut akan diberikan uraiannya.
A.  Perubahan pada masa kolonial Barat
1.   Perluasan penggunaan lahan
Pada zaman sekarang ini kita melihat banyaknya perkebunan yang ada di Indonesia. Perkebunan di Indonesia telah berkembang sebelum masa penjajahan. Bangsa Indonesia telah memiliki teknologi turun-temurun untuk mengembangkan berbagai teknologi pertanian. Pada masa penjajahan terjadi perubahan besar dalam perkembangan perkebunan di Indonesia. Penambahan jumlah lahan untuk tanaman ekspor dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, tidak hanya pemerintah kolonial yang mengembangkan lahan perkebunan di Indonesia tetapi terdapat juga perusahaan-perusahaan swasta. Pada masa pemerintah kolonial Hindia-Belanda banyak perusahaan asing yang menanamkan investasi di Indonesia. Hutan dibuka untuk lahan perkebunan. Kita dapat melihat banyaknya perkebunan di Indonesia seperti halnya di Kabupaten Batang yaitu perkebunan teh yang ada di Pagilaran.  
2.   Persebaran Penduduk dan Urbanisasi
Politik etis atau Trias Van Deventer terdiri dari irigasi ,transmigrasi dan edukasi. Sejarah transmigrasi Indonesia terjadi pada akhir abad IXX. Tujuan utama transmigrasi pada masa tersebut adalah untuk menyebarkan tenaga kerja murah di berbagai perkebunan di Sumatera dan Kalimantan. Pada masa sekarang penduduk yang ada di Sumatera banyak terdapat keturunan dari Jawa.Pembukaan perkebunan pada masa kolonial barat di Indonesia telah berhasil mendorong persebaran penduduk Indonesia. Munculnya berbagai pusat industri dan perkembangan berbagai fasilitas di kota menjadi daya dorong perkembangan kota-kota. Urbanisasi terjadi daerah di Indonesia daerah yang awalnya hutan belantara menjadi ramai dan gemerlap karena ditemukannya area pertambangan. Persebaran penduduk di Indonesia tidak sebatas dalam lingkungan nasional tetapi juga lintas negara. Di masa sekarang ini kita dapat melihat banyaknya keturunan orang Jawa yang ada di Suriname Mengapa penduduk Jawa bisa sampai ke Suriname? Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah Belanda untuk mengirim banyak tenaga kerja ke Suriname yang juga merupakan wilayah jajahan Belanda.
3.   Pengenalan tanaman baru titik pengaruh pemerintah kolonial Belanda di satu sisi memiliki pengaruh positif dalam mengenalkan berbagai tanaman dan teknologi dalam pertanian dan perkebunan, Beberapa tanaman andalan ekspor dikenalkan dan dikembangkan di Indonesia. Pengenalan tanaman baru sangat bermanfaat dalam pengembangan pertanian dan perkebunan di Indonesia. 
4.   Penemuan barang tambang
Pembukaan lahan pada masa kolonial barat juga dilakukan untuk pertambangan minyak bumi batu bara dan Logam. pembukaan lahan untuk pertambangan terjadi pada akhir abad IXX dan awal XX.
5.   Transportasi dan komunikasi
Pada zaman Belanda banyak dibangun Jalan Raya rel kereta api dan jaringan telepon. pembangunan berbagai sarana transportasi dan komunikasi mendorong mobilitas barang dan jasa sangat cepat. pada transportasi laut juga dibangun berbagai dermaga di Indonesia.
6.   Perkembangan Kegiatan Ekonomi
Perubahan masyarakat Indonesia dalam kegiatan ekonomi terjadi baik dalam produksi konsumsi maupun distribusi. Kegiatan produksi dalam pertanian dan perkebunan semakin maju dengan ditemukannya berbagai teknologi pertanian yang bervariasi. Rakyat mulai mengenal tanaman yang tidak hanya untuk dipanen semusim. Pembukaan berbagai perusahaan telah melahirkan berbagai jenis pekerjaan dalam bidang yang berbeda titik sebagai contoh munculnya kuli-kuli perkebunan, mandor dan administrasi di berbagai lembaga pemerintah maupun swasta. Kegiatan ekspor impor juga mengalami kenaikan signifikan pada masa penjajahan barat. Hal ini tidak lepas dari usaha pemerintah kolonial menggenjot jumlah produksi ekspor.
7.   Mengenal uang
Pada masa sebelum kedatangan bangsa barat,  masyarakat biasanya bekerja secara gotong royong contohnya dalam mengerjakan sawah setiap penduduk akan mengerjakan secara bersama-sama dan salah satu dari salah satu ke sawah lainnya. Pada masa kekuasaan Kolonial barat uang mulai dikenalkan sebagai alat pembayaran jasa dan tenaga kerja. keberadaan uang sebagai barang baru dalam kehidupan masyarakat menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat mulai menyenangi uang karena dianggap lebih mudah digunakan .
8.   Perubahan dalam pendidikan
Terdapat dua pendidikan yang dikembangkan pada masa kolonial Barat yaitu pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah dan yang dikembangkan oleh masyarakat. Pusat-pusat kekuasaan Belanda di Indonesia di berbagai kota di Indonesia menjadi pusat pertumbuhan berbagai sekolah di Indonesia. pada masa penjajahan Belanda juga telah berkembang perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung atau ITB dan Institut Pertanian Bogor atau IPB. Pada masa pemerintah kolonial barat terjadi diskriminasi pendidikan di Indonesia. Sekolah dibedakan menjadi 2 golongan yaitu sekolah untuk bangsa Eropa dan sekolah untuk penduduk pribumi. Hal ini mendorong lahirnya berbagai gerakan pendidikan di Indonesia titik taman siswa yang berada di Jogjakarta merupakan salah satu pelopor gerakan pendidikan modern di Indonesia. sekolah-sekolah yang dipelopori oleh berbagai pergerakan nasional tumbuh pesat pada awal abad XX. Pengaruh pendidikan modern berdampak pada perluasan lapangan kerja masyarakat Indonesia. munculnya elite intelektual memunculkan berbagai jenis pekerjaan baru seperti guru administrasi pegawai pemerintah dan sebagainya.
9.   Perubahan dalam aspek politik
Kejayaan kerajaan-kerajaan pada masa kedatangan bangsa barat satu persatu mengalami kemerosotan bahkan keruntuhan. Pada masa kerajaan rakyat diperintah oleh raja yang merupakan bangsa Indonesia. Pada pemerintah kolonial barat rakyat diperintah oleh bangsa asing. kekuasaan Bangsa Indonesia untuk mengatur bangsanya semakin hilang digantikan dengan kekuasaan bangsa barat. Perubahan inilah yang paling penting untuk diperjuangkan titik tanpa kemerdekaan bangsa Indonesia sulit mengatur di perubahan dalam sistem politik juga terjadi dengan dikenalnya sistem pemerintahan baru titik pada masa kerajaan dikenal raja dan bupati sementara pada masa pemerintah kolonial Belanda dikenal Gubernur Jenderal, Residen Bupati dan seterusnya. Para penguasa kerajaan menjadi kehilangan kekuasaannya digantikan dengan kekuasaan pemerintah kolonial barat. Terbentuknya pemerintah Hindia Belanda di satu sisi menguntungkan bangsa Indonesia pemerintah Hindia Belanda yang terpusat menyebabkan hubungan yang erat antara rakyat Indonesia dari berbagai daerah titik munculnya perasaan senasib dan sepenanggungan dalam bingkai hindia-belanda. munculnya berbagai organisasi pergerakan nasional tidak lepas dari ikatan politik Hindia Belanda titik sebelum masa penjajahan hindia-belanda masyarakat Indonesia terkotak-kotak dalam sistem politik kerajaan. Terdapat puluhan kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Pada masa Hindia-belanda berbagai daerah tersebut disatukan dalam satu identitas yaitu Hindia Belanda.
10.    Perubahan dalam aspek budaya
Hal ini dapat kita lihat dengan adanya berbagai bangunan bercorak Hindia Belanda. Pada penjajahan Belanda berpengaruh terhadap teknologi dan seni bangunan di Indonesia. Teknologi bangunan modern dikenalkan bangsa barat di berbagai wilayah Indonesia perubahan kesenian juga terjadi terutama di daerah perkotaan yang mulai mengenal tarian barat kebiasaan dansa dan minuman-minuman keras yang dikenalkan para pejabat Belanda berpengaruh pada perilaku sebagian masyarakat Indonesia. Kita juga dapat melihat penggunaan bahasa Belanda yang berpengaruh dalam kosakata bahasa Indonesia. Selain itu dalam aspek budaya terjadi perubahan kehidupan beragama yang dianut masyarakat Indonesia. Pengaruh kolonial yang lain adalah pengaruh penyebaran agama Kristen di wilayah Indonesia. Penyebaran agama Kristen menjadi lebih intensif seiring dengan datangnya bangsa barat pada abad ke-XVI. Kedatangan bangsa barat itu semakin memantapkan dan mempercepat penyebaran agama Kristen di Indonesia. Orang-orang Portugis menyebarkan agama Kristen Katolik, Orang-orang Belanda membawa agama Kristen Protestan. Siapakah yang menyebarkan Agama Katolik di Indonesia? mereka adalah para Pastor seperti Fransiskus Xaverius dari ordo Serikat Yesus. Ia aktif mengunjungi desa-desa di sepanjang pantai Le timur kepulauan lease Pulau Ternate Halmahera Utara dan kepulauan Morotai. Usaha penyebaran agama Katolik ini kemudian dilanjutkan oleh pastor pastor lainnya. Selanjutnya di Nusa Tenggara Timur seperti Flores solor Timur agama Katolik berkembang dengan baik sampai sekarang ini. Sedangkan agama Kristen Protestan berkembang di kepulauan Maluku terutama Setelah VOC menguasai Ambon.  Agama Katolik dan Protestan berkembang dengan baik di Indonesia bagian timur.  Pengaruh dalam bidang budaya lainnya adalah pakaian, makanan dan berbagai jenis pekerjaan baru. Pakaian gaya eropa tidak hanya berpengaruh dalam lingkungan keraton tetapi juga masyarakat luas. penggunaan contoh kata Belanda yang banyak dipergunakan di Indonesia seperti knalpot kabinet kanker dan lain sebagainya. 
B.  Perubahan masyarakat pada masa penjajahan Jepang
1.   Perubahan dalam aspek geografi
Adanya eksploitasi kekayaan alam menjadi ciri penting pada masa pendudukan Jepang. Misi untuk memenangkan perang dunia kedua mendorong Jepang menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis nya menghadapi tentara sekutu titik Jepang banyak membutuhkan dukungan dalam menghadapi Perang Dunia II. Lahan perkebunan yang ada pada masa hindia-belanda merupakan lahan yang menghasilkan untuk jangka waktu yang lama. Jepang menggerakkan tanaman rakyat yang mendukung Jepang dalam perang dunia II. Tanaman jarak dikembangkan sebagai bahan produksi minyak yang dibutuhkan sebagai mesin perang titik kesengsaraan pada masa pendudukan Jepang menyebabkan besarnya angka kematian. Pada masa pendudukan Jepang, migrasi terjadi terutama mendukung perang jepang menghadapi sekutu. Banyak rakyat Indonesia yang ikut dalam romusha ataupun membantu pasukan Jepang di berbagai negara Asia Tenggara untuk membantu perang jepang. sebagian dari mereka tidak kembali atau tidak diketahui nasibnya. menurut Catatan sejarah jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar Jawa bahkan ke luar negeri seperti Burma Malaya Vietnam dan Thailand mencapai 300000 orang. Ratusan ribu orang tersebut banyak yang tidak diketahui nasibnya setelah perang dunia kedua usai.
2.   Perubahan Ekonomi
Sistem ekonomi perang jepang membawa kemunduran dalam bidang perekonomian Indonesia titik putusnya hubungan dalam perdagangan dunia mempersempit kegiatan perekonomian di Indonesia. Perkebunan tanaman ekspor diganti menjadi lahan pertanian untuk kebutuhan sehari-hari. Pembatasan ekspor menyebabkan sulitnya memperoleh bahan pakaian maka rakyat Indonesia pun mengusahakannya sendiri. Pakaian yang terbuat dari benang goni menjadi trend pada masa pendudukan Jepang. Kewajiban setor padi dan tingginya pajak pada masa pendudukan Jepang menyebabkan terjadinya kemiskinan luar biasa. Angka kematian sangat tinggi contohnya di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah angka kematian mencapai 50%. Kemiskinan yang luar biasa berdampak pada penyakit-penyakit sosial lainnya seperti gelandangan, pengemis, dan kriminalitas.
3.   Perubahan dalam aspek pendidikan
 Kegiatan  pendidikan menurun pada masa pendudukan Jepang. Budaya Jepang dikenalkan di berbagai sekolah di Indonesia. Bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa pengantar di berbagai sekolah di Indonesia, adapun bahasa Jepang menjadi bahasa utama di sekolah-sekolah. Tradisi budaya Jepang dikenalkan di sekolah mulai dari tingkat rendah. Para siswa harus digembleng agar bersemangat Jepang atau Nippon Seishin. Para pelajar juga harus menyanyikan lagu Kimigayo atau lagu kebangsaan Jepang dan menghormati bendera Hinomaru serta melakukan gerak badan dan Seikerei.
4.   Perubahan dalam aspek politik
Propaganda Jepang berhasil mempengaruhi masyarakat Indonesia titik dengan alasan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda Jepang mulai simpati rakyat dengan kebijakan yang kaku dan keras secara politis organisasi pergerakan yang pernah ada sulit mengembangkan aktivitasnya. Bahkan Jepang melarang membubarkan semua organisasi pergerakan politik yang pernah ada di masa kolonial Belanda, hanya MIAI yang kemudian diperbolehkan hidup karena organisasi ini dikenal sebagai anti budaya barat atau Belanda . Kempetai selalu memata-matai gerak-gerik organisasi pergerakan nasional. akibatnya muncul gerakan gerakan bawah tanah.  Jepang berusaha mendapatkan simpati dan dukungan rakyat dan tokoh-tokoh Indonesia atas kekuasaannya di Indonesia. akibatnya Hal ini menimbulkan beragam tanggapan dari para tokoh pergerakan nasional. kelompok pertama adalah kelompok yang masih mau bekerjasama dengan Jepang tetapi dengan menggelorakan pergerakan nasional. Para tokoh ini adalah mereka yang muncul dalam berbagai organisasi bentukan Jepang. Adapun kelompok kedua adalah mereka yang tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Jepang dan melakukan gerakan bawah tanah. pada masa akhir pendudukan Jepang terjadi revolusi politik di Indonesia yakni kemerdekaan Indonesia. Peristiwa proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 menjadi momen penting perjalanan sejarah Indonesia selanjutnya. Kemerdekaan telah membawa perubahan masyarakat dalam berbagai bidang.
5.   Perubahan dalam aspek budaya
 Jepang berusaha menjepangkan Indonesia ajaran Shintoisme diajarkan pada masyarakat Indonesia. Kebiasaan menghormat matahari dan menyanyikan lagu Kimigayo merupakan salah satu pengaruh pada masa pendudukan Jepang. Pengaruh ini menimbulkan perlawanan diberbagai daerah. salah satu penyebab perlawanan adalah penolakan terhadap kebiasaan menghormati matahari. Perkembangan bahasa Indonesia pada masa pendudukan Jepang mengalami kemajuan. Pada tanggal 20 Oktober 1943 atas desakan dari beberapa tokoh Indonesia didirikanlah komisi penyempurnaan bahasa Indonesia. Tugas komisi ini adalah menentukan istilah istilah modern dan menyusun suatu tata bahasa normatif serta menentukan kata-kata yang umum bagi bahasa Indonesia. 
Untuk Lebih Jelas, Silahkan simak Video berikut ini



Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Rabu, 18 Maret 2020

Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme

 Maret 18, 2020     No comments   

Perlawanan Rakyat Mengusir Penjajah

A. Perlawanan Terhadap Persekutuan Dagang
1. Sultan Baabullah Mengusir Portugis
Raja Ternate yang sangat gigih melawan Portugis adalah Sultan Hairun yang bersifat sangat anti-Portugis. Beliau dengan tegas menentang usaha Portugis untuk melakukan monopoli perdagangan di Ternate. Rakyat Ternate di bawah pimpinan Sultan Hairun melakukan perlawanan. Rakyat menyerang dan membakar benteng-benteng Portugis. Portugis kewalahan menghadapi perlawanan tersebut.
Dengan kekuatan yang lemah, tentu saja Portugis tidak mampu menghadapi perlawanan. Oleh karena itu, pada tahun 1570 dengan licik Portugis menawarkan tipu perdamaian. Sehari setelah sumpah ditandatangani, de Mosquito mengundang Sultan Hairun untuk menghadiri pesta perdamaian di benteng. Tanpa curiga Sultan Hairun hadir, dan kemudian dibunuh oleh kaki tangan Portugis.
Peristiwa ini menimbulkan kemarahan besar bagi rakyat Maluku dan terutama Sultan Baabullah, anak Sultan Hairun. Bersama rakyat, Sultan Baabullah bertekad menggempur Portugis. Pasukan Sultan Baabullah memusatkan penyerangan untuk mengepung benteng Portugis di Ternate. Lima tahun lamanya Portugis mampu bertahan di dalam benteng yang akhirnya menyerah pada tahun 1575 karena kehabisan bekal. Kemudian Portugis melarikan diri ke Timor Timur.
2. Perlawanan Aceh 
Penyerangan Aceh terhadap Portugis di Malaka pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah. Untuk itu, Sultan Alaudin Riayat Syah mengirim utusan ke Konstantinopel (Turki) untuk meminta bantuan militer dan permintaan khusus  mengenai pengiriman meriam-meriam, pembuatan senjata api, dan penembak-penembak. Selain itu, Aceh juga meminta bantuan dari Kalikut dan Jepara.
Dengan semua bantuan dari Turki maupun kerajaan-kerajaan lainnya, Aceh mengadakan penyerangan terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1568. Namun penyerangan tersebut mengalami kegagalan. Meskipun demikian, Sultan Alaudin telah menunjukkan ketangguhan sebagai kekuatan militer yang disegani dan diperhitungkan di kawasan Selat Malaka.
Penyerangan terhadap Portugis dilakukan kembali pada masa Sultan Iskandar Muda memerintah. Pada tahun 1629, Aceh menggempur Portugis di Malaka dengan sejumlah kapal yang memuat 19.000 prajurit. Pertempuran sengit tak terelakkan yang kemudian berakhir dengan kekalahan di pihak Aceh
3. Perlawanan Sultan Hasanuddin
Perdagangan di Makassar mencapai perkembangan pesat pada masa pemerintahan Sultan
Hasanuddin. Banyak pedagang dari berbagai Negara seperti Cina, Jepang, Sailan, Gujarat, Belanda, Inggris, dan Denmark yang berdagang di Bandar Sambaopu. Bahkan untuk mengatur perdagangan, dikeluarkanlah hukum pelayaran dan perdagangan Ade Allopilloping Bacanna Pabalue.
Ketika VOC datang ke Maluku untuk mencari rempah-rempah, Makassar juga dijadikan daerah sasaran untuk dikuasai. VOC melihat Makassar sebagai daerah yang menguntungkan karena pelabuhannya ramai dikunjungi pedagang dan harga rempah-rempah sangat murah. VOC ingin menerapkan monopoli perdagangan namun ditentang oleh Sultan Hasanuddin.
Pada bulan Desember 1666, armada VOC dengan kekuatan 21 kapal yang dilengkapi meriam, mengangkut 600 tentara yang dipimpin Cornelis Speelman tiba dan menyerang Makassar dari laut. Arung Palaka dan orang-orang suku Bugis rival suku Makassar membantu VOC menyerang melalui daratan. Akhirnya VOC dengan sekutu-sekutu Bugisnya keluar sebagai pemenang. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang berisi:
1) Sultan Hasanuddin memberi kebebasan kepada VOC melaksanakan perdagangan,
2) VOC memegang monopoli perdagangan di Sombaopu,
3) Benteng Makassar di Ujungpandang diserahkan pada VOC,
4) Bone dan kerajaan-kerajaan Bugis lainnya terbebas dari kekuasaan Gowa.
Sultan Hasanuddin tetap gigih, masih mengobarkan pertempuran-pertempuran. Serangan besar-besaran terjadi pada bulan April 1668 sampai Juni 1669, namun mengalami kekalahan. Akhirnya Sultan tak berdaya, namun semangat juangnya menentang VOC masih dilanjutkan oleh orang-orang Makassar. Karena keberaniannya itu, Belanda memberi julukan Ayam Jantan dari Timur kepada Sultan Hasanuddin.
4.Perlawanan Mataram ( Sultan Agung )
Raja Mataram yang terkenal adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo. Beliau di samping cakap
sebagai raja juga fasih dalam hal seni budaya, ekonomi, sosial, dan perpolitikan. Beliau berhasil 
mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa seperti Gresik (1613), Tuban (1616), Madura 
(1624), dan Surabaya (1625). Setelah berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa,
Sultan Agung mengalihkan perhatiannya pada VOC (Kompeni) di Batavia. VOC di bawah pimpinan 
Jan Pieterzoon Coen berusaha mendirikan benteng untuk memperkuat monopolinya di Jawa. Niat 
VOC (kompeni) tersebut membuat marah Sultan Agung sehingga mengakibatkan Mataram sering 
bersitegang dengan VOC (kompeni).
Sultan Agung menyadari bahwa kompeni Belanda tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu pada tanggal 22 Agustus 1628 Sultan Agung memerintahkan penyerangan pasukan Mataram ke Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Baurekso dan Dipati Ukur. Kemudian tahun 1629, Mataram kembali menyerang VOC di Batavia di bawah pimpinan Suro Agul-Agul, Kyai Adipati Mandurareja, dan Dipati Upasanta. Meskipun tidak berhasil mengusir VOC dari Batavia, Sultan Agung sudah menunjukkan semangat anti penjajahan asing khususnya kompeni Belanda.
B. Perlawanan Terhadap Pemerintah Hindia Belanda
1. Perlawanan Rakyat Ambon

Ketika Belanda kembali berkuasa pada tahun 1817, monopoli diberlakukan lagi. Diberlakukan lagi system ekonomi uang kertas yang sangat dibenci dan keluar perintah sistem kerja paksa (rodi). Belanda tampaknya juga tidak mau menyokong dan memerhatikan keberadaan gereja Protestan dan pengelolaan sekolah-sekolah protestan secara layak. Inilah penyebab utama meletusnya Perang Maluku yang dipimpin Kapitan Pattimura.
Pada tanggal 15 Mei 1817, pasukan Pattimura mengadakan penyerbuan ke Benteng Duurstede. Dalam penyerangan tersebut, Benteng Duurstede dapat diduduki oleh pasukan Pattimura bahkan residen van den Berg beserta keluarganya tewas. Tentara Belanda yang tersisa dalam benteng tersebut menyerahkan diri. Dalam penyerbuan itu, Pattimura dibantu oleh Anthonie Rheebok, Christina Martha Tiahahu, Philip Latumahina, dan Kapitan Said Printah.
Berkat siasat Belanda yang berhasil membujuk Raja Booi, pada tanggal 11 November 1817, Thomas Matulessy atau yang akrab dikenal dengan gelar Kapitan Pattimura berhasil ditangkap di perbatasan hutan Booi dan Haria.
Akhirnya vonis hukuman gantung dijatuhkan kepada empat pemimpin, yaitu Thomas Matullessy atau Kapitan Pattimura, Anthonie Rheebok, Said Printah, dan Philip Latumahina. Eksekusi hukuman gantung sampai mati dilaksanakan pada pukul 07.00 tanggal 10 Desember 1817 disaksikan rakyat Ambon.
2. Perang Paderi
Peristiwa ini berawal dari gerakan Paderi untuk memurnikan ajaran Islam di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat. Perang ini dikenal dengan nama Perang Paderi karena merupakan perang antara kaum Paderi/kaum putih/golongan agama melawan kaum hitam/kaum Adat dan Belanda. Tokoh-tokoh pendukung kaum Paderi adalah Tuanku Nan Renceh, Tuanku Kota Tua, Tuanku Mensiangan, Tuanku Pasaman, Tuanku Tambusi, dan Tuanku Imam. Jalannya Perang Paderi dapat dibagi menjadi 3 tahapan, berikut.
1 ) Tahap I, tahun 1803 – 1821
Ciri perang tahap pertama ini adalah murni perang saudara dan belum ada campur tangan pihak luar, dalam hal ini Belanda. Perang ini mengalami perkembangan baru saat kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda. Sejak itu dimulailah Perang Paderi melawan Belanda.
2 ) Tahap II, tahun 1822 – 1832
Tahap ini ditandai dengan meredanya pertempuran karena Belanda berhasil mengadakan perjanjian dengan kaum Paderi yang makin melemah. Pada tahun 1825, berhubung dengan adanya perlawanan Diponegoro di Jawa, pemerintah Hindia Belanda dihadapkan pada kesulitan baru. Kekuatan militer Belanda terbatas, dan harus menghadapi dua perlawanan besar yaitu perlawanan kaum Paderi dan perlawanan Diponegoro. Oleh karena itu, Belanda mengadakan perjanjian perdamaian dengan Kaum Paderi. Perjanjian tersebut adalah Perjanjian Masang (1825) yang berisi masalah gencatan senjata di antara kedua belah pihak. Setelah Perang Diponegoro selesai, Belanda kembali menggempur kaum Paderi di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ellout tahun 1831. Kemudian, disusul juga oleh pasukan yang dipimpin Mayor Michiels.
3 ) Tahap III, tahun 1832 – 1838
Perang pada tahap ini adalah perang semesta rakyat Minangkabau mengusir Belanda. Sejak tahun 1831
kaum Adat dan kaum Paderi bersatu melawan Belanda yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Pada tanggal 16 Agustus 1837 jam 8 pagi, Bonjol secara keseluruhan diduduki Belanda. Tuanku Imam mengungsi ke Marapak. Pertempuran itu berakhir dengan penangkapan Tuanku Imam, yang langsung dibawa ke Padang. Selanjutnya atas perintah Letkol Michiels, Tuanku Imam diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat pada tahun 1838. Kemudian pada tahun 1839 dipindah ke Ambon. Tiga tahun kemudian dipindah ke Manado sampai meninggal pada tanggal 6 November 1964 pada usia 92 tahun.
3. Perang Diponegoro
Pada saat sebelum Perang Diponegoro meletus, terjadi kekalutan di Istana Yogyakarta. Ketegangan mulai timbul ketika Sultan Hamengku Buwono II memecat dan menggeser pegawai istana dan bupati-bupati yang dahulu dipilih oleh Sultan Hamengku Buwono I.
Kekacauan dalam istana semakin besar ketika mulai ada campur tangan Belanda. Tindakan sewenang-wenang yang dilakukan Belanda menimbulkan kebencian rakyat. Kondisi ini memuncak menjadi perlawanan menentang Belanda. Berikut ini sebab-sebab umum perlawanan Diponegoro.
1. Kekuasaan Raja Mataram semakin lemah, wilayahnya dipecah-pecah.
2. Belanda ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan dan pengangkatan raja pengganti.
3. Kaum bangsawan sangat dirugikan karena sebagian besar sumber penghasilannya diambil alih oleh Belanda. Mereka dilarang menyewakan tanah bahkan diambil alih haknya.
4. Adat istiadat keraton menjadi rusak dan kehidupan beragama menjadi merosot.
5. Penderitaan rakyat yang berkepanjangan sebagai akibat dari berbagai macam pajak, seperti pajak hasil bumi, pajak jembatan, pajak jalan, pajak pasar, pajak ternak, pajak dagangan, pajak kepala, dan pajak tanah.
Hal yang menjadi sebab utama perlawanan Pangeran Diponegoro adalah adanya rencana
pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Dalam perang tersebut, Pangeran Diponegoro mendapatkan dukungan dari rakyat Tegalrejo, dan dibantu Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasyah Prawirodirjo, dan Pangeran Dipokusumo. Pada tanggal 20 Juli 1825, Belanda bersama Patih Danurejo IV mengadakan serangan ke Tegalrejo. Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya menyingkir ke Selarong, sebuah perbukitan di Selatan Yogyakarta. Selarong dijadikan markas untuk menyusun kekuatan dan strategi penyerangan secara
gerilya. Agar tidak mudah diketahui oleh pihak Belanda, tempat markas berpindah-pindah, dari Selarong ke Plered kemudian ke Dekso dan ke Pengasih. Perang Diponegoro menggunakan siasat perang gerilya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Berbagai upaya untuk mematahkan perlawanan Pangeran Diponegoro telah dilakukan Belanda, namun masih gagal. Siasat Benteng stelsel (sistem Benteng) yang banyak menguras biaya diterapkan juga. Namun sistem benteng ini juga kurang efektif untuk mematahkan perlawanan Diponegoro. Jenderal De Kock akhirnya menggunakan siasat tipu muslihat melalui perundingan. Pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro bersedia hadir untuk berunding di rumah Residen Kedu di Magelang. Dalam perundingan tersebut, Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Semarang dan dipindah ke Batavia. Selanjutnya pada tanggal 3 Mei 1830 dipindah lagi ke Manado. Pada tahun 1834 pengasingannya dipindah lagi ke Makassar sampai meninggal dunia pada usia 70 tahun tepatnya tanggal 8 Januari 1855
4. Perang Aceh
Penandatanganan Traktat Sumatra antara Inggris dan Belanda pada tahun 1871 membuka kesempatan kepada Belanda untuk mulai melakukan intervensi ke Kerajaan Aceh. Belanda menyatakan perang terhadap Kerajaan Aceh karena Kerajaan Aceh menolak dengan keras untuk mengakui kedaulatan Belanda.
Kontak pertama terjadi antara pasukan Aceh dengan sebagian tentara Belanda yang mulai mendarat. Pertempuran itu memaksa pasukan Aceh mengundurkan diri ke kawasan Masjid Raya. Pasukan Aceh tidak semata-mata mundur tapi juga sempat memberi perlawanan sehingga Mayor Jenderal Kohler sendiri tewas. Dengan demikian, Masjid Raya dapat direbut kembali oleh pasukan Aceh.
Daerah-daerah di kawasan Aceh bangkit melakukan perlawanan. Para pemimpin Aceh yang diperhitungkan Belanda adalah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Tengku Cik Di Tiro, Teuku Ci’ Bugas, Habib Abdurrahman, dan Cut Mutia.

Belanda mencoba menerapkan siasat konsentrasi stelsel yaitu sistem garis pemusatan di mana Belanda memusatkan pasukannya di benteng-benteng sekitar kota termasuk Kutaraja. Belanda tidak melakukan serangan ke daerah-daerah tetapi cukup mempertahankan kota dan pos-pos sekitarnya. Namun, siasat ini tetap tidak berhasil mematahkan perlawanan rakyat Aceh.
Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan Belanda berpikir keras untuk menemukan siasat baru. Untuk itu, Belanda memerintahkan Dr. Snouck Hurgronje yang paham tentang agama Islam untuk mengadakan penelitian tentang kehidupan masyarakat Aceh. Dr. Snouck Hurgronje memberi saran dan masukan kepada pemerintah Hindia Belanda mengenai hasil penyelidikannya terhadap masyarakat Aceh yang ditulis dengan judul De Atjehers. Berdasarkan kesimpulan Dr. Snouck Hurgronje pemerintah Hindia Belanda memperoleh petunjuk bahwa untuk menaklukkan Aceh harus dengan siasat kekerasan.
Pada tahun 1899, Belanda mulai menerapkan siasat kekerasan dengan mengadakan serangan besar-besaran ke daerah-daerah pedalaman. Serangan-serangan tersebut dipimpin oleh van Heutz. Tanpa mengenal perikemanusiaan, pasukan Belanda membinasakan semua penduduk daerah yang menjadi targetnya. Satu per satu pemimpin para pemimpin perlawanan rakyat Aceh menyerah dan terbunuh. Dalam pertempuran yang terjadi di Meulaboh, Teuku Umar gugur.
Jatuhnya Benteng Kuto Reh pada tahun 1904, memaksa Aceh harus menandatangani Plakat pendek atau Perjanjian Singkat (Korte Verklaring). Biar pun secara resmi pemerintah Hindia Belanda menyatakan Perang Aceh berakhir pada tahun 1904, dalam kenyataannya tidak. Perlawanan rakyat Aceh terus berlangsung sampai tahun 1912. Bahkan di beberapa daerah tertentu di Aceh masih muncul perlawanan sampai menjelang Perang Dunia II tahun 1939.
5. Perang Sisingamangaraja XII

Pada tahun 1878 Belanda mulai dengan gerakan militernya menyerang daerah Tapanuli, sehingga meletus Perang Tapanuli dari tahun 1878 sampai tahun 1907. Berikut ini sebab-sebab terjadinya Perang Batak atau Perang Tapanuli.
1) Raja Si Singamangaraja XII menentang dan menolak daerah kekuasaannya di Tapanuli Selatan dikuasai Belanda.
2) Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica (menguasai seluruh Hindia Belanda).
Pada masa pemerintahan Si Singamangaraja XII, kekuasaan kolonial Belanda mulai memasuki daerah Tapanuli. Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica yang dilakukan dengan
berlindung di balik kegiatan zending yang mengembangkan agama Kristen. Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung dengan dalih melindungi penyebar agama Kristen. Si Singamangaraja XII tidak menentang usaha-usaha mengembangkan agama Kristen tetapi ia tidak bisa menerima tertanamnya kekuasaan Belanda di wilayah kekuasaannya.
Menghadapi perluasan wilayah pendudukan yang dilakukan oleh Belanda, pada bulan Februari 1878 Si Singamangaraja XII melancarkan serangan terhadap pos pasukan Belanda di BahalBatu, dekat Tarutung. 
Pertempuran merebak sampai ke daerah Buntur, Bahal Batu, Balige, Si Borang-Borang, dan Lumban Julu. Dengan gigih rakyat setempat berjuang saling bahu membahu berlangsung sampai sekitar 7 tahun. Tetapi, karena kekurangan senjata pasukan Si Singamangaraja XII semakin lama semakin terdesak. Bahkan terpaksa ditinggalkan dan perjuangan dilanjutkan ke tempat lain.
Dalam keadaan yang lemah, Si Singamangaraja XII bersama putra-putra dan pengikutnya mengadakan perlawanan. Dalam perlawanan ini, Si Singamangaraja, dan seorang putrinya, Lapian serta dua putranya, Sultan Nagari dan Patuan Anggi, gugur. Dengan gugurnya Si Singamangaraja XII, maka seluruh daerah Batak jatuh ke tangan Belanda.
6. Perang Banjar
Campur tangan pemerintah Belanda dalam urusan pergantian kekuasaan di Banjar merupakan biang perpecahan. Sewaktu Sultan Adam Al Wasikbillah menduduki tahta kerajaan Banjar (1825 – 1857), putra mahkota yang bernama Sultan Muda Abdurrakhman meninggal dunia. Dengan demikian calon berikutnya adalah putra Sultan Muda Abdurrakhman atau cucu Sultan Adam. Yang menjadi masalah adalah cucu Sultan Adam dari putra mahkota ada dua orang, yaitu Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Tamjid.Sultan Adam cenderung untuk memilih Pangeran Hidayatullah. Alasannya memiliki perangai yang baik, taat beragama, luas pengetahuan, dan disukai rakyat. Sebaliknya Pangeran Tamjid kelakuannya kurang terpuji, kurang taat beragama dan bergaya hidup kebarat-baratan meniru orang Belanda. Pangeran Tamjid inilah yang dekat dengan Belanda dan dijagokan oleh Belanda. Belanda menekan Sultan Adam dan mengancam supaya mengangkat Pangeran Tamjid.
Di mana-mana timbul suara ketidakpuasan masyarakat terhadap Sultan Tamjidillah II (gelar Sultan Tamjid setelah naik tahta) dan kebencian rakyat terhadap Belanda. Kebencian rakyat lama-lama berubah menjadi bentuk perlawanan yang terjadi di mana-mana. Perlawanan tersebut dipimpin oleh seorang figur yang didambakan rakyat, yaitu Pangeran Antasari.Pangeran Hidayatullah secara terang-terangan menyatakan memihak kepada Pangeran Antasari. Bentuk perlawanan rakyat terhadap Belanda mulai berkobar sekitar tahun 1859. Pangeran Antasari juga diperkuat oleh Kyai Demang Lehman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang. Penyerangan diarahkan pada pospos tentara milik Belanda dan pos-pos missi Nasrani. Benteng Belanda di Tabania berhasil direbut dan dikuasai. Tidak lama kemudian datang bantuan tentara Belanda dari Jawa yang dipimpin oleh Verspick, berhasil membalik keadaan setelah terjadi pertempuran sengit.
Akibat musuh terlalu kuat, beberapa orang pemimpin perlawanan ditangkap. Pangeran Hidayatullah ditawan oleh Belanda pada tanggal 3 Maret 1862, dan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat. Sepeninggal Pangeran Antasari, para pemimpin rakyat mufakat sebagai penggantinya adalah Gusti Mohammad Seman, putra Pangeran Antasari.
7. Perang Jagaraga
Pada tahun 1844, sebuah kapal dagang Belanda kandas di daerah Prancak (daerah Jembara), yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Kerajaan-kerajaan di Bali termasuk Buleleng pada saat itu memberlakukan hak tawan karang. Dengan demikian, kapal dagang Belanda tersebut menjadi hak Kerajaan Buleleng. Pemerintah kolonial Belanda memprotes Raja Buleleng yang dianggap merampas kapal Belanda, namun tidak dihiraukan. Insiden  inilahyang memicu pecahnya Perang Bali, atau dikenal juga dengan nama Perang Jagaraga.
Belanda melakukan penyerangan terhadap Pulau Bali pada tahun 1846. Yang menjadi sasaran pertama dan utama adalah Kerajaan Buleleng. Patih I Gusti Ktut Jelantik beserta pasukan menghadapi serbuan Belanda dengan gigih. Pertempuran yang begitu heroik terjadi di Jagaraga yang merupakan salah satu benteng pertahanan Bali. Belanda melakukan serangan mendadak terhadap pasukan Bali di benteng Jagaraga. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Bali tidak dapat menghalau pasukan musuh. Akhirnya pasukan I Gusti Ktut Jelantik terdesak dan mengundurkan diri ke daerah luar benteng Jagaraga.
Waktu benteng Jagaraga jatuh ke pihak Belanda, pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Mayor A.V. Michiels dan sebagai wakilnya adalah van Swieten. Raja Buleleng dan patih dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda menuju Karangasem. Setelah Buleleng secara keseluruhan dapat dikuasai, Belanda kemudian berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan lainnya di Pulau Bali. Ternyata perlawanan sengit dari rakyat setempat membuat pihak Belanda cukup kewalahan. Perang puputan pecah di mana-mana, seperti Perang Puputan Kusamba (1849), Perang Puputan Badung (1906), dan Perang Puputan Klungkung (1908).

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Rabu, 09 Oktober 2019

 Oktober 09, 2019     No comments   

Tangkuban Perahu Legenda ataukah Erupsi Gunung Sunda Purba?
Hasil gambar untuk keindahan gunung tangkuban perahu
https://www.google.com/search?q=keindahan+gunung+tangkuban+perahu&sxsrf=ACYBGNSoyOOepcS4tBBSGsH-ar_kH0835w:1570672289103&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=4U6Y-3R1sWW9pM%253A%252CDA3ZVcxt_TPlBM%252C_&vet=1&usg=AI4_-kTtSLsNm8-fXzcMzChtLTdpQpdhqA&sa=X&ved=2ahUKEwj7z-aeypDlAhVkguYKHW_FBnIQ9QEwAnoECAIQDA#imgrc=HD_IRHpvdFrbTM:&vet=1

Ketika kita berwisata ke Bandung,tidak puas rasanya jika belum mendatangi panorama alam Gunung Tangkuban Perahu. Gunung yang menawarkan keindahan dan misteri tentang asal muasal gunung ini terbentuk selalu menarik perhatian pengunjung. Sampai saat ini, masih banyak masyarakat  terutama di sekitar Subang dan Bandung yang memercayai adanya legenda Tangkuban Perahu dengan cerita rakyat "Sangkuriang". Lalu bagaimana sebenarnya fenomena Gunung Tangkuban Perahu terbentuk, apakah legenda ataukah Erupsi Gunung Sunda Purba?

Pada kesempatan kali ini, kita akan mengungkapkannya dari dua versi yang berbeda.
A.  Tangkuban Perahu sebagai legenda
Masyarakat Subang dan Bandung percaya bahwa terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu berkaitan erat dengan cerita rakyat "Sangkuriang". Sangkuriang jatuh cinta kepada ibunya sendiri yang bernama Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan rencana Sangkuriang yang hendak menikahi ibunya sendiri,Dayang Sumbi memberikan syarat untuk membuat perahu dan telaga dalam waktu satu malam. 
Dengan kekuatan dan bantuan dari jin,Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya,kalau saja tidak terdengar suara ayam berkokok yang menyebabkan para jin ketakutan dan lari meninggalkan Sangkurian sendirian. Sangkuriang yang marah menendang perahu yang dibuatnya dan perahu tersebut terbalik. Perahu inilah yang akhirnya menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

B. Tangkuban Perahu adalah Erupsi Gunung Sunda Purba
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Van Bemmelen (1934) dapat diketahui bahwa Gunung Tangkuban Perahu terbentuk setelah meletusnya Gunung Sunda Purba. Gunung ini mengalami letusan hebat sekitar 50.000 tahun yang lalu. Begitu dahsyatnya letusan ini sehingga meninggalkan lubang menganga dengan diameter 5-10 km, lubang menganga bekas letusan ini diberi nama Kaldera Sunda. Didalam Kaldera Sunda inilah terbentuk Gunung Tangkuban Perahu.
Pada bulan Juli tahun 2019 yang lalu,kita dikagetkan dengan erupsi Gunung Perahu meskipun tidak terlalu besar intensitasnya . Apakah sebelumnya Gunung Tangkuban Perahu pernah mengalami erupsi? Dibawah ini akan diuraikan peristiwa erupsi yang pernah terjadi di Gunung Tangkuban Perahu:
  • Tahun 1829: Letusan berupa abu dan batu dari Kawah Ratu dan Domas.
  • Tahun 1846: Terjadi peningkatan kegiatan.
  • Tahun 1896: Terbentuk fumarol baru di sebelah utara Kawah Badak dari Kawah Ratu
  • Tahun 1910: Kolom asam membumbung setinggi 2 Km di atas dinding kawah, letusan berasal dari Kawah Ratu.
  • Tahun 1926: Letusan freatik di Kawah Ratu membentuk lubang Ecoma.
  • Tahun 1935: Lapangan fumarol baru disebut Badak terbentuk, 150 m ke arah selatan baratdaya dari Kawah Ratu
  • Tahun 1952: Letusan abu didahului oleh letusan hidrotermal freatik
  • Tahun 1957: Letusan freatik di Kawah Ratu, terbentuk lubang kawah baru
  • Tahun 1961: Terjadi letusan freatik Gunung api Tangkuban Perahu
  • Tahun 1965: Terjadi letusan freatik Gunung api Tangkuban Perahu
  • Tahun 1967: Terjadi letusan freatik Gunung api Tangkuban Perahu
  • Tahun 1969: Letusan freatik didahului letusan lemah yang menghasilkan abu
  • Tahun 1971: Letusan freatik
  • Tahun 1983: Awan abu membumbung setinggi 150 m di atas Kawah Ratu.
  • Tahun 1992: Peningkatan kegiatan kuat dengan gempa seismik dangkal dan letusan freatik kecil
  • Tahun 1994: Letusan freatik di kawah baru
  • Tahun 1999: Peningkatan aktivitas
  • Tahun 2002: Peningkatan aktivitas
  • Tahun 2005: Peningkatan aktivitas
  • Tahun 2013: Beberapa kali terjadi peningkatan aktivitas (Februari, Maret, Oktober). Sejarah baru terjadi dengan 11 kali letusan freatik dalam kurun waktu 4 hari (5-10 Oktober 2013)
  • Tahun 2019:  Gunung tangkubanparahu kembali mengalami erupsi jumat sore (26/7/2019) pukul 15:48 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2.284 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan durasi ± 5 menit 30 detik.
Tipe Gunung Api
Gunug Berapi dibedakan menjadi 3 tipe yaitu bentuk Perisai,Maar dan Strato
1. Tipe Perisai
Gunung tipe ini bentuknya sangat landai seperti perisai, lava yang dikeluarkan sangat cair, tekanan gas rendah, dapur magma sangat dangkal dan keluarnya magma secara efusif/meleleh.
Contoh gunung yang bertipe ini adalah gunung yang letaknya di kepulauan Hawai (Samudera Pasifik) yaitu Gunung Mauna Kea, Mauna Load an Kilauea.
2. Tipe Maar
Gunung tipe ini disebabkan karena adanya letusan eksplosif yang cuma terjadi 1 kali materi dengan muntahan berbentuk elflata. Oleh karenanya dapur magma cenderung dangkal dan kandungan gas di dalam magma tidak terlalu banyak, sebab letusan dari gunung api maar ini tidak terlalu kuat,sehingga hanya membentuk dinding gunung yang bentuknya berupa tanggul di wilayah lubang kawah. Contohnya berupa Gunung Lamongan ( Jawa Timur ), Gunung Monte Nuovo ( Naples, Italia ) dan Gunung Pinacate ( Sonora, Mexico )
3. Tipe Strato
Gunung tipe ini disebabkan oleh erupsi yang bergonta ganti antara eksplosif dan efusif, jadi memerlihatkan batuan beku dengan berlapis-lapis di dinding kawahnya. Batuan yang berlapis tersebut asalnya dari pembekuan lava dan juga eflata yang saling bergantian. Hampir dari seluruh gunung api yang ada di Indonesia bertipe ini. Contohnya Gunung Merapi, Gunung Krakatau, Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Semeru, dan juga Gunung Tambora.

 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Minggu, 03 Februari 2019

 Februari 03, 2019     No comments   

Interaksi Antar Negara ASEAN

Pengertian dan latar belakang kerjasama
Tahun 2018 lalu Indonesia sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia (ASIAN Games) yang terlaksana di dua kota Jakarta dan Palembang. ASIAN Games merupakan salah satu contoh bentuk kerjasama antar negara di kawasan Benua Asia,sedangkan untuk kawasan Asia Tenggara terdapat pula kerjasama di bidang olahraga yaitu berupa SEA Games yang diselenggarakan 2 tahun sekali secara bergantian tempatnya. Setiap negara tidak dapat memenuhi semua kebutuhan masyarakatnya dengan sumber daya yang dimilikinya karena negara juga memiliki keterbatasan baik SDA,SDM maupun teknologi. Oleh karenanya suatu negara harus menjalin kerjasama dengan negara yang lainnya. Kerjasama disini berarti menjalin hubungan antara dua negara atau lebih demi mencapai kesepakatan. Mengapa suatu negara perlu menjalin kerjasama? Negara perlu menjalin suatu kerjasama dikarenakan adanya beberapa hal,antara lain :
  1. Tiap negara memiliki perbedaan dan kesamaan dengan negara lainnya, antara lain dalam hal  sumber daya alam, iklim dan kesuburan tanah,ilmu pengetahuan dan teknologi,ideologi.
  2. Adanya kesamaan dan perbedaan wilayah (kondisi geografis); kesamaan letak geografis membuat beberapa negara di suatu kawasan pada umumnya mengadakan kerja sama untuk menjaga stabilits dan keamanan negara.
ASEAN merupakan bentuk kerjasama antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Organisasi ini merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan damai. Sampai saat ini ASEAN memiliki keanggotaan 10 negara. 
Bentuk Kerjasama ASEAN
ASEAN memiliki berbagai bentuk kerjasama antara lain :
1Kerjasama di bidang Sosial Budaya;Kerjasama di bidang sosial budaya dilaksanakan oleh lembaga COSD (Committee on Social Development), yang melakukan kerjasama dalam hal:
⧫ pembangunan sosial dengan menekankan kesejahteraan golongan berpendapatan rendah,perluasan kesempatan kerja,serta pembayaran (upah) yang wajar;
⧫ membantu kaum wanita dan pemuda dalam usaha-usaha pembangunan 
⧫ mengembangan sumber daya manusia 
⧫ peningkatan kesejahteraan 
⧫ pertukaran budaya dan seni
⧫ program peningkatan kesehatan dan lain-lain
ï¼’Kerjasama Bidang Politik dan Keamanan: Kerjasama ini dutujukan untuk menciptakan keamanan,stabilitas dan perdamaian antarnegara di ASEAN. Contoh kerjasama ini meliputi:
⧫Traktat bantuan hukum timbal balik di bidang pidana
⧫ Konvensi ASEAN tentang pemberantasan terorisme
⧫ Pertemuan para menteri pertahanan yang bertujuan mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan melalui dialog serta kerjasama di bidang pertahanan dan keamanan
⧫ Penyelesaian sengketa laut cina selatan dan lain-lain
3 Kerjasama di bidang Pendidikan; Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendididikan di Asia Tenggara dan meningkatnya daya saing internsional. Kerjasama ini antara lain berupa penawaran beasiswa pendidikan,penyelenggaraan olimpiade di bidang pendidikan di taraf ASEAN.
Pengaruh Kerjasama Bidang Ekonomi,Sosial,Politik,Budaya dan Pendidikan terhadap kehidupan di ASEAN
  1. Pengaruh di Bidang Ekonomi ; Pada akhir tahun 2015 para pemimpin ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Aia Tenggara dengan tujuan agar daya saing ASEAN meningkat serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Investasi sangat dibutuhkan untuk memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pasar tunggal ini lebih dikenal dengan istilah MEA ( Masyarakat Ekonomi ASEAN ). 
  2. Pengaruh di Bidang Sosial ; Hidup bertentangga dengan negara disekitar kadangkala terdapat pertentangan yang dapat memicu adanya perselisihan,apalagi kehidupan sosial sangatlah dinamis. Banyak masalah sosial termasuk masalah kemanusian yang terjadi di beberapa negara yang berdampak juga bagi negara lainnya. Disinilah dibutuhkan simpati dari negara lainnya agar tercipta kondisi yang aman dan persaudaraan sesama manusia dapat terjalin dengan baik. 
  3. Pengaruh di Bidang Budaya ; Kebudayaan merupakan salah satu pilar utama ASEAN dalam proses mengarah ke tujuan membangun komunitas bersama, bisi bersama dan jati diri bersama. Banyak hal yang sudah dilaksanakan dalam bidang budaya antara lain : membangun kota budaya ASEAN, perkemahan pemuda ASEAN dan jaringan kota kuno ASEAN.
  4. Pengaruh di bidang Pendidikan ;Kerjasama di bidang ini lebih diutamakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan lulusan yang kompeten yang dapat bersaing di kancah internasional
  5. Pengaruh di bidang Politik ; Banyaknya permasalahan politik di ASEAN berhasil diselesaikan dengan baik melalui jalan damai. Pemasalahan yang timbul antara lain; permasalahan tentang Laut Cina Selatan. Beberapa negara telah bersaingan membuat klaim teritorial atas Laut Cina Selatan.Perselisihan tersebut dianggap sebagai titik konflik Asia yang paling berpotensi bahaya. Perselisihan yang telah timbul; 
⧫ Indonesia, RRT, Vietnam dan Taiwan atas daerah perairan di timur laut Kepulauan Natuna
⧫ Filipina, RRT, dan Taiwan atas ladang gas Malampaya dan Camago di Laut Cina Selatan
⧫ Filipina, RRT, dan Taiwan atas ladang gas di Gosong Scarborough.
⧫ Vietnam, RRT, dan Taiwan atas perairan di sebelah barat Kepulauan Spratly. Kesemua atau beberapa dari pulau-pulau di daerah tersebut juga tengah diperebutkan Vietnam, RRT, Taiwan, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina. 
⧫  Kepulauan Paracel dipersengketakan antara RRT dan Vietnam. 
⧫  Malaysia, Kamboja, Thailand dan Vietnam atas ladang gas dan minyak di Teluk Thailand.
⧫ Singapura dan Malaysia di sepanjang Selat Johor dan Selat Singapura termasuk Pulau Batu Puteh (Pedra Blanca) 
ASEAN telah mengeluarkan deklarasi tentang masalah ini, menyerukan semua negara untuk menangani masalah tersebut tanpa menggunakan kekerasan.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Postingan Lama Beranda

Mengenai Saya

Foto saya
nurkhasanah
Lihat profil lengkapku

Popular Posts

  • Perubahan Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan
    Terjadinya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia menyebabkan perubahan masyarakat Indonesia baik aspek geografis ekonomi sosial bud...
  • Perlawanan terhadap Kolonialisme dan Imperialisme
    Perlawanan Rakyat Mengusir Penjajah A. Perlawanan Terhadap Persekutuan Dagang 1. Sultan Baabullah Mengusir Portugis Raja Ternate ya...
  • (tanpa judul)
    Interaksi Antar Negara ASEAN Pengertian dan latar belakang kerjasama Tahun 2018 lalu Indonesia sukses menjadi tuan rumah penyelenggar...

Categories

  • IPS
  • Kelas 8
  • Pluralitas
  • Quiz

Blog Archive

  • Februari (1)
  • Mei (1)
  • Maret (1)
  • Oktober (1)
  • Februari (2)
  • Januari (1)
  • Maret (4)
Nurkhasanah, S.Pd. Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Copyright © Mari Belajar IPS | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates